19 July 2011
Jam sudah 2.30 pagi, mata masih belum mengantuk melayan karenah afidavit-afidavit kes multi juta itu. Sambil-sambil sempat juga membuat jengukan ala-ala stalker ke laman muka buku si dia yang nun sudah mengucapkan selamat malam tadi.
Tiba-tiba kepala hotak ini diimbau kenangan di daerah kuala di zaman belasan tahun dahulu. Ketika itu di jam-jam beginilah hampir setiap malam kaki ini melangkah sakan bersama si gendut melompat pagar sunset boulevard menuju ke gedung makan che nah di stesen keretapi daerah kuala.
Saat begitu indah dapat menikmati suapan nasi goreng hasil air tangan che nah, maklumlah hidangan di dewan makan asrama besar terlalu loya untuk tekak ini walaupun lauk pauknya begitu canggih. Sambil mendengar alunan irama bon jovi dan terra rossa dari jukebox dapat juga dengan bebas menghembus asap si peter styvesant. Satu kebebasan dinihari tahap maksima. Kalau tak percaya, tanya si gendut itu.
Begitulah rutin harian dinihari bersama si gendut hinggalah seusai kertas perdagangan peperiksaan terakhir itu. Usah risau tentang poket kosong, ada saja si gendut lain yang berat telur memberi upah delivery order habuan untuk berdating dengan si jambu.
Tapi kebebasan dinihari itu datang dengan harga, bukannya percuma. Adakala disampuk sang askar jepun, kegelian melihat si king cobra di sunset boulevard, dicekup si jalak lenteng dan konco-konco hingga mendapat habuan rotan awam. Walau apa pun, kebebasan tetap kebebasan.
Tapi di saat dinihari ini, kebebasan adalah dengan menjelepuk di katil bujang ini, sambil membuat jengukan ala stalker di muka buku si dia dengan perut berdering-dering meminta-minta disuapkan si butter scotch!
Tiba-tiba kepala hotak ini diimbau kenangan di daerah kuala di zaman belasan tahun dahulu. Ketika itu di jam-jam beginilah hampir setiap malam kaki ini melangkah sakan bersama si gendut melompat pagar sunset boulevard menuju ke gedung makan che nah di stesen keretapi daerah kuala.
Saat begitu indah dapat menikmati suapan nasi goreng hasil air tangan che nah, maklumlah hidangan di dewan makan asrama besar terlalu loya untuk tekak ini walaupun lauk pauknya begitu canggih. Sambil mendengar alunan irama bon jovi dan terra rossa dari jukebox dapat juga dengan bebas menghembus asap si peter styvesant. Satu kebebasan dinihari tahap maksima. Kalau tak percaya, tanya si gendut itu.
Begitulah rutin harian dinihari bersama si gendut hinggalah seusai kertas perdagangan peperiksaan terakhir itu. Usah risau tentang poket kosong, ada saja si gendut lain yang berat telur memberi upah delivery order habuan untuk berdating dengan si jambu.
Tapi kebebasan dinihari itu datang dengan harga, bukannya percuma. Adakala disampuk sang askar jepun, kegelian melihat si king cobra di sunset boulevard, dicekup si jalak lenteng dan konco-konco hingga mendapat habuan rotan awam. Walau apa pun, kebebasan tetap kebebasan.
Tapi di saat dinihari ini, kebebasan adalah dengan menjelepuk di katil bujang ini, sambil membuat jengukan ala stalker di muka buku si dia dengan perut berdering-dering meminta-minta disuapkan si butter scotch!
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment